Selasa, 24 Maret 2015

Assalamualaikum

Entah sudah berapa lama blog ini saya tinggalkan, mungkin jika ini diibaratkan sebuah kotak kosong, sudah dihuni oleh seekor laba-laba yang bersarang menunggu mangsa. Ah, jangan tanya seberapa rindu saya bercerita dengan para pembaca, sungguh sangat rindu, hanya jendela di Android handphone yang bisa sedikit menghapus rasa rinduku untuk bercerita.

Ah, kesibukan menjelang ujian nasional dan ujian akhir sekolah sedikit menguras tenaga dan waktuku, itulah alasan paling utamaku membiarkan halaman cerita ini bersarangkan laba-laba. Jangan tanya apa saja yang telah kulalui selama ini. Terlalu banyak cerita yang kumakan sediri, dan entah dengan berapa puluh laman agar semuanya tertuang.

Mulai dari kucing persiaku yang hamil, dan yah, aku kaget, saat tahu bahwa harus USG, kupikir tak akan seluarbiasa itu, dan yah, saya harus sedikit menyisihkan uang belanja untuk persiapa biaya persalinan.
Lahiran pertama harus memanggil dokter, lucu bukan?
Saya saja kaget, yah, adakah yang mau membantu sepersekian dari biaya persalinan?
Atau haruskah saya buat gerakan koin untuk baby moly?

Lalu bagaimana dengan pendidikanku?
Semuanya berjalan baik, dan rasanya tak terlalu penting untuk saya curahkan disini, sama dengan yang kalian para pelajar lakukan, pemantapan, bimbingan belajar, les, dan tugas-tugas yang seperti anggota paskibraka saling berbaris meminta jatah waktu dan tenaga.
Dan, jangan tanya.
Saat seperti ini aku rindu ibuku, belum lagi aku sempat terjatuh sakit.
Kau tahu bagaimana rasanya kehilangan orang paling penting di saat paling genting?
Yah, Sakit sekali.

Aku rindu ibu, dia yang setiap pagi membuatkanku sarapan.
Mengejarku saat aku berpakaian seragam sekolah dengan sepiring telur dadarnya, dengan sigap bolak balik menyuapi dan memberiku minum setiap pukul tujuh pagi.
Katanya dia tak ingin membuatku tak bisa berpikir karena kelaparan.
Katanya juga, jika perutku lapar, aku akan malas belajar.
Sepulang sekolah sibuk menanyai makan siangku.
Sibuk menanyai apakah aku sudah minum susu atau belum.
Bahkan terkadang lebih memilih membiarkan tubuh lelahnya tidak langsung pulang dari puskesmas hanya untuk membelikanku sekotak susu cokelat.
Kau tahu, ulang tahun ke tujuh belasku tidak akan pernah kulupakan, karena inilah titik paling menyedihkan bagiku, titik yang paling menohokku.

Saat ini sosok yang biasa kupanggil 'Pah'
sedang dalam masa pemulihan pasca operasi mata, kau tahu apa yang kulakukan saat papa sedang operasi, aku sibuk bermain hp, kenapa?
Aku tak ingin menangis terseduh, aku tak ingin meronta.
Menyakitkan semua hal berat ini saya lalui tanpa ibu.
Dulu, ketika papa masuk rumah sakit ketika tubuhnya lemah seketika ada ibu yang menopangnya.
Sibuk pulang balik membuatkan susu atau teh hangat, tidak lupa membisikannya kalimat syahadat.
Agar tubuh papa yang lemah tidak diganggu syetan.
Tapi, kini sungguh, Aku tak tahu harus bagaimana.
Tak bisa segesit ibu, tak bisa selincah ibu.
Arrgghhh. Aku rindu.

Bu, anakmu sudah perlahan berjalan menunggu gerbang perkuliahan dibuka. Kau ridhoi aku memasuki gerbang fakultas yang mana?
Karena Ridhomu sangat kubutuhkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar