Rabu, 18 Maret 2015

Kamis, yah kamis

Hari ini, entah sudah berapa ratus hari setelah aku mulai jatuh cinta,  juga setelah berapa hari aku mulai membuang-buang kata rindu. Untuk seseorang yang sama sekali tak merindukanku, untuk seseorang yang entah hati dan pikirannya kemana. Apa aku terluka? Tidak,  sungguh aku sangat baik di sini dengan perasaanku dengan rinduku,  karena seseorang berkata bahwa, kelak akan datang orang yang bisa membalas dan membalut semua sakit ini.
Tapi alangkah bahagianya aku, jikalau kaulah orangnya.

Jangan tanya betapa rindu aku, rupanya mimpi bukan untuk mengobati rinduku, malah menggandakan perasaan tanpa penawar. Andai obat anti rindu dijual bebas di apotek, aku tidak akan seterluka ini.

Bagaimana dengan perasaanmu? Bagaimana dengan wanitamu, bagaimana dengan perasaanmu. Apakah wanitamu melukaimu? Apakah wanita yang kau sukai mengecewakanmu, apakah dia sebodoh itu. Ahh, andai aku bisa menjadi wanitamu. Andai. Ahh, aku berkhayal.

Pernah kau lihat butiran bintang di langit, layaknya seperti butiran, tetapi bintang itu nyatanya lebih besar dari mobil lamborgini yang berserakan di jalan raya ibu kota Jakarta. Kau tahu, hal itu sama dengan perasaanku,  layaknya mungkin kecil, tapi dewasa ini kian lama kian membesar. Ah, sesakit inikah bertahan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar