Senin, 20 April 2015

##

Entah, bagaimana melukiskan sakitnya hatiku belakangan hari ini. Entah apa lagi yang bisa kulakukan untuk mengikis sedikit demi sedikit luka yang menganga.

Luka yang mengoyak dan sangat menohok. Tuhan, usiaku tujuh belas tahun, dan aku kembali dipaksa untuk dewasa. Tuhan. Aku tidak sedang patah hati karena jatuh cinta. Tidak. Tetapi mimpi dan harapanku terancam runtuh. Semua semangat yang kubangun untuk kuliah tinggi entah kemana. Entah menguap kemana.

Yang kutahu hatiku sakit sekali. Yang kutahu, perasaan ini bisa perlahan-lahan mengubur jasadku.

Cerita ini tentang rumah tempat bernaungku yang entah tidak lagi senyaman dulu. Tentang hatiku yang dulu hangat. Tentang saudara-saudaraku yang entah ingin berlindung dimana.

Tuhan. Mengapa sesakit ini. Apa ini awal kehancuran??  Apa ini awal dari patahnya sebelah sayapku. Apa ini awal dari tangisan yang lebih meraung-raung.

Sungguh. Kumohon jangan.
Jangan biarkan aku yang lemah ini terus saja menangis. Jangan biarkan aku yang ringkih ini tertendang-tendang.
Tuhan. Aku memeluk keyakinanku padamu. Memeluk takdirku padamu.

Rumahku, tidak lagi seperti rumah.
Tak ada bunda. Tak ada tempat paling baik. Tidak ada makhluk seindah dia.
Sungguh, ini tidak lagi terlihat seperti rumah.
Lindungi keluargaku, Tuhan. Lindungi saudara-saudaraku. Kami tak punya tempat lain untuk berlindung.

Tuhan, andai, memilih takdir itu boleh. Aku memilih bundaku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar