Selasa, 07 April 2015

Kamu

Siang ini, matahari begitu nakal.
Pancaran sinarnya mampu membuatku berpeluh.
Aduh, untung saja kita masih hidup dibawah bangunan bertembokkan bata. Bagaimana dengan mereka yang hidup di pinggir jalan. Tak mampu kubayangkan akan sepanas apa hari ini bagi mereka.

Masih di hari kesekian ketika aku mulai jatuh cinta.
Sungguh, belum berhenti.
Aku melihatmu yang sedari tadi sibuk dengar pemutar musik di ponselmu.
Menatap benda itu dengan begitu antusias. Bolehkah aku menjadi perangkat keras itu, yah, hanya perlu sedikit saja kadar peduli.
Sekadar bisa disentuh olehmu. Atau yah, apapun itu.

Bagaimana dengan hatiku?
Sungguh, aku sejak dulu memaki-maki sudah berhenti mencintaimu.
Tetapi, aku belum.
Sungguh, belum.
Arrgghh. kisah ini menyakitkan.
Kenapa aku masih bertahan.

Yah, siang ini aku hanya melihat padamu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar