Senin, 16 November 2015

Ibuku Pembohong

Bukankah selama ini kita tidak menyadari bahwa pembohong yang paling hebat bukanlah pencuri, penipu ulung, atau bahkan pemerintah.
Kita sibuk mengkritiki kebanyakan hal yang tidak begitu berdampak dalam hidup kita, seperti Artis, Penyanyi, Bintang Film, Politikus, dan para pemerintah. Tanpa sadar bahwa disamping kita ada pembohong ulung.

Pembohong yang tinggal dan menetap dalam rumah kita. Tertidur satu selimut dengannya. Tanpa peduli dampak masifnya.
Sadarkah bahwa pembohong itu ialah orang yang sama yang kita tumpangi rahimnya.
Pembohong kelas atas, yang kebohongannya sendiri jarang kita ketahui.

Saat sampai pada baris ini, mungkin sudah ada beberapa pembaca yang marah dengan tulisan ini, memaki bagaimana bias seorang ibu menjadi penipu ulung yang pandai berbohong. Sungguh, aku berani mengatakan bahwa ibu adalah pembohong ulung.

Adakah dari kita yang menyadarinya?
Menyadari berapa banyak kebohongan yang ibu sampaikan dari bibirnya.
Dari peluk dan seluruh nasihat hebatnya.

Ibu seorang pembohong yang paling hebat.
Saat kau bangun pagi-pagi sekali, perempuan berwajah sendu itu telah memasak untuk sarapan pagimu, sembari jemarinya sibuk memilah pakaian mana yang akan ia cuci untuk hari ini. Kemudian kau terbangun tanpa peduli atas tumpukan pakaian itu, selama seragam sekolah untukmu hari ini dalam keadaan bersih, tumpukan pakaian itu tidak pernah penting.
Lalu dimana kebohongan ibu?
Sadarkah saat dia bangun pagi ini?
Tubuhnya sudah cukup lelah semalaman menyapu dan membersihkan ruang makan yang kau tinggalkan begitu saja tadi malam. Tubuhnya lelah, dan paginya perempuan itu bertingkah seolah dia tidak lelah semalaman membersihkan.
Dia bersikap seolah memilah pakaian kotor yang akan ia cuci semenyenangkan melenggak lenggokkan pinggang di Mall. Dan, memasak adalah pekerjaan yang hanya perlu jentikan jari lantas selesai.
Bukankah ibu pembohong yang hebat?

Lalu sepulangmu sekolah, perempuan itu telah menyelesaikan hampir tujuh puluh persen tugasnya. Lantas kau datang, duduk manis, makan siang, minum dengan gelas yang bersih, makan dengan garpu yang bersih. Kemudian berlalu meninggalkan ruang makan begitu saja.

Tanpa peduli bahwa piring dan peralatan makan itu yang tadi pagi telah dicuci, kau bebankan lagi untuk ia cuci. Maka tugasnya berkurang 10 persen dari selesai. Enam puluh persen hampir selesai.

Langkahmu perlahan membuka pintu kamar, berganti pakaian, membuka sepatu sekolah, yang tanpa sadar lagi-lagi kau mengurangi persen terselesaikannya tugas ibu?
Apa kebohongan ibu selanjutnya dia tersenyum seolah pekerjaan itu sama indahnya dengan yah, menggesek kartu kredit untuk sepasang sepatu berwarna gold.

Sadarkah bahwa ibu pembohong ulung?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar