Sabtu, 30 Januari 2016

Benteng

Malam ini, kuingin melepas banyak hal yang tertahan.
Membiarkannya menguap lewat jemariku yang sedang menari.
Tak semua hal bisa dibagi, rahasia tetap akan menjadi rahasia, tetapi aku butuh tempat untuk bercerita. Beri aku ruang untuk melepaskan semua beban ini.

Terlalu banyak hal yang tak ingin kudengar beberapa bulan teakhir.
Terlalu banyak luka bak sembilu yang memanahku.
Terlalu banyak topeng yang kugunakan.
Aku mulai lelah menyimpan ini, Tuhan
Aku mulai lelah mengarungi lautan maha luasMu.

Bentengku mulai koyak, tak lagi berdiri dengan utuh.
Panas dan dingin silih berganti menerpa kulitku yang tipis.
Hujan dan terik matahari beradu kuat di sisiku.
Sementara aku tak punya bata lagi untuk mendirikan sisi benteng yang baru.

Tuhan, dibalik semua keambiguan ini.
Izinkan aku menangis.
Seolah tengah berdialeg denganMu. Karena kutahu, meski aku tak berbicara pun Engkau pasti sudah tahu. Bahkan lebih tahu dariku.

Awalnya kupikir hal ini mudah, sungguh semudah apa yang tayangan televise tunjukkan padaku.
Tapi nyatanya, bertolak belakang.

Usiaku Sembilan belas tahun.
Dan, aku mendengar banyak sekali hal yang tidak ingin kudengar semakin sering.
Kutahu, skenarioMu pasti indah. Hanya itu yang membuatku bertahan sampai saat ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar