Selasa, 12 Januari 2016

Sebuah Perasaan yang Tak Ingin Kunamai

Bukan baru hari ini aku mengenalmu. Bahkan aku sudah tidak ingat di tanggal berapa Tuhan mengatur pertemuan kita. Kita saling mengenal, yah. Aku cukup tahu beberapa hal darimu. Kau memiliki karakter yang tak bisa diam, juga pengganggu.

Kita juga sering bertukar cerita, aku sampai hapal betul keseharianmu, bukankah kau menghabiskan waktu terlalu banyak di depan layar komputer, atau kesenanganmu dalam dunia sepak bola. Aku juga tahu pada siapa kau menyimpan hati. Dan, yah begitu sebaliknya. Kau tahu hatiku terpaut pada siapa.

Kita hanya sebatas teman biasa. Namun kekasihmu berkata, ada sesuatu yang berbeda di antara kita. Katanya kedekatan kita bukan hanya teman biasa. Aku hanya tertawa. Kau juga, balik menertawai dia. Menggeleng menyalahkan pendapatnya.
Itu lelucon yang sangat lucu.
Aku bersumpah itu sangat lucu.

Semuanya berlalu biasa saja, sangat biasa. Beberapa kali kekasihmu menanyai keberadaanmu padaku. Aku lantas hanya menggeleng, bagaimana mungkin aku tahu, bukannya kau lebih sering bersamanya.

Bukankah perasaan suka itu perihal bagaimana kita saling menjaga kepercayaan. Terlalu banyak definisi cinta di dunia ini, hingga kita sendiri tak tahu harus menganut definisi yang mana. Sampai kita sendiri kebingungan memilih yang mana.
Lantas ada yang berkata bahwa perasaan suka, sayang dan cinta itu berbeda.
Opini pertama berkata bahwa tingkat tertinggi adalah cinta selanjutnya disusul oleh sayang dan suka.
Opini kedua berkata bahwa tingkat tertinggi adalah sayang selanjutnya diikuti oleh cinta dan suka.
Diantara banyak opini, hamper semuanya tidak meletakkan suka pada puncak.
Entah mengapa, pertanyaannya lantas opini siapa yang menjadi sumber kebenaran?

Bahkan kita sendiri masih sulit memilah perasaan kita pada seseorang itu jenisnya apa, takarannya berapa, bertahannya seberapa lama, masa kadarluarsanya tanggal berapa.
Rasa itu tidak ada termometernya, tidak ada alat ukurnya.
Lantas, mengapa seringkali kita membatasi, ah, hanya sekadar suka.
yang ini hanya sekadar sayang. Nah, yang ini baru cinta.
Kita lupa bahwa perasaan itu tidak pernah ada alat ukurnya. Tapi kita sendiri yang membatasi.
Membatasi perasaan itu bercerita.
Membatasi perasaan itu bersikap.
Membatasi perasaan itu mengambil keputusan.
Lantas, kita lebih banyak membuang waktu untuk bertahan pada rasa yang kadarnya lebih sering dan lebih lama bertahan.

Jika cinta itu sebuah totalitas, maka sayang adalah sesuai kemampuan, dan suka adalah alakadarnya.
atau untuk yang meletakkan definisi sayang pada kadar paling tinggi yang terjadi adalah Sayang itu sebuah totalitas, maka cinta adalah sesuai kemampuan dan suka tetap alakadarnya.

Siapa yang membatasi ini?
Apakah sesempit ini sebuah perasaan?
Apakah perasaan ada pada tingkat-tingkat tertentu?

Lagi, malam itu kekasihmu bertanya lagi. Apakah kau membalas Chatku, aku mengiyakan. 
Dia geram setengah mati, karena kau mengabaikannya.
Tak lama setelah itu kau berpisah dengannya.
Kau menjelaskan semuanya secara rinci, mengapa, dimana, dan bagaimana keputusan itu kau ambil.
Aku menggangguk mengerti.
Tak ada yang dijelek-jelekkan di sini. Aku tahu persis hal itu. Meski kalian berdua saling tak bicara setelahnya.

Hari, bulan, hingga tahun berganti.
Hari ini kita bertemu setelah sekian lama, yah. Setelah semua kesibukanmu bekerja.
Sama denganku, aku juga terlalu sibuk kuliah, hingga kita sama sekali tidak berkomunikasi.
Aku memaklumi hal itu.
Hingga aku merasakan sebuah perasaan aneh, begitu kau bercerita tentang pekerjaanmu, tentang kehidupan barumu, tentang semua hal baru yang kau lalui.
Aku merasakan itu.
Tepat di titik paling peka dalam diriku.
Dan ini adalah sebuah perasaan yang tidak akan kubatasi dengan menyebutnya, cinta, suka atau sayang.
Aku ingin perasaan ini yang menentukan sendiri nasibnya.
Apakah perasaan ini memilih menghilang atau bertahan? Aku tak tahu.
Yang aku tahu, aku tak ingin membatasinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar