Sabtu, 13 Februari 2016

Apakah Kau Memiliki Kakak yang Seperti Kakakku?

Sepuluh hari yang lalu, kau berulang tahun. Tak ada yang berbeda dengan ulang tahunmu, semua berjalan baik-baik saja. Aku berencana menulis sesuatu untukmu. Tetapi karena kepanitiaan sebuah lomba mengharuskanku untuk menyingkirkan list itu dari hal yang mendesak.
Aku menomor sekian kan tulisan ini.

Kakak, tepat sepuluh hari yang lalu kau berulang tahun, sedikit kesal mendapatiku tertidur di malam pergantian hari baikmu. Pasti kau berharap kami menyiapkan sesuatu. Yah, jelas kami menyiapkannya hanya saja semuanya tak sesuai rencana.
Aku mengunjungi dua took bunga. Toko pertama tertutup, sedangkan took kedua sudah membuatku menunggu lama lantas membiarkanku pulang dengan tangan kosong, berdalih semua bunga yang terpajang sudah dipesan gubernur untuk acara penyambutan entah dimana. Tak begitu penting bagiku.
Aku pulang dengan tangan kosong. Hadiah Pop Upmu saja baru jadi hamper tengah malam, itu berarti tak sempat untuk diantarkan ke rumah. Saudaraku yang satunya memilih menggunakan jasa ojek online. Ketika ojek itu sudah hampir sampai di rumah, telepon selular milik Driver lowbat. Dia kehilangan arah, bingung akan mengantar paketnya ke rumah yang mana.
Sedangkan aku dengan tubuhku yang keletihan setelah seharian mengurus banyak hal menjelas acara di kampus.
Hari itu, suprisenya ditunda lenih kurang dua puluh jam.

Tidak, mungkin pembaca tak ingin tahu apa yang terjadi setelah surprise. Juga aku yang memilih tidak akan menuliskannya di sini. Aku ingin menulis hal lain.
Tentang kakakku.
Seorang kakak perempuan yang entah bagaimana bisa berdiri sekokoh ini.
Sejak ibu meninggal, perannya berubah.
Karakternya berubah, menyesuaikan lingkungan yang semakin lama semakin mencekam.
Sungguh, aku tidak berhiperbola untuk kata mencekam di atas.

Sejak ibu meninggal, aku lebih sering melihatnya menangis.
Aku lebih sering melihat matanya membengkak, begitu banyak beban yang ia tanggung. Tak terhitung, andai jika beban itu dilimpahkan kepadaku. Mungkin aku akan memilih menghindari beban itu.
Sungguh, aku lebih sering melihatnya menangis. Bahkan ketika tulisan ini kubuat, dia sedang menangis, menahan goresan yang menyayat hatinya.
Dia menangis bukan karena menjadi lebih cengeng setelah ibu pergi.
Tangisan itu melambangkan dia lebih kuat, membuktikan bahwa setelah tangisan itu dia akan menjadi seseorang yang lebih tak terpatahkan.
Aku tak bisa menghitung seberapa banyak tangisnya belakangan ini.

Dia belajar banyak hal belakangan ini. Bukan, tidak akademik. Dia belajar sesuatu yang lebih berharga. Dia belajar untuk menjadi pengganti mama. Sibuk memilah dan memilih masakan terbaik apakah yang akan dihidangkan malam ini, juga apa yang akan ia hidangkan esok paginya. Usianya 23 tahun, tetapi dia berusaha menjadi pengganti mama.
Dia amatir yang cepat belajar.
Tunggu, apakah dia akan marah kusebut dengan kata amatir?
Bukankah tadi kukatakan amatir yang cepat belajar, tidak begitu buruk untuk sebuah celaan.
Bercanda, itu sebuah pujian,

Ketika aku memilih untuk tidur, apa yang akan dia lakukan?
Dia sedang sibuk memikirkan banyak hal.
Memerhatikan kebiasaan kami semua, pakaian apa yang dikenakan Ayah hari ini, Barang baru apa yang dibeli Kakakku yang nomor dua sepulang kuliah, atau aku yang akan terlambat pulang atau akan lebih cepat pulang.
Hal seperti itu menjadi penting baginya.
Dia memperharikan kami dengan sangat detail. Dia bahkan tahu dimana aku menyembunyikan kunci lemariku. Tetapi untuk saja dia tidak tahu dimana aku menyembunyikan diaryku.
Belum lagi perkara kucingku, entah mengapa binatang yang baru ia sukai sejak dua tahun terakhir ini, lebih dia perhatikan makannya, dia lebih sering mengingatkanku mengenai pakan kucing yang segera habis.

Lalu apakah kalian punya kakak seperti kakakku?
Yah, dia memang cerewet, bahkan beberapa kali berusaha mencari tahu siapa lelaki yang kusukai, atau menghafali kode sandi sosial mediaku.
tetapi, hal seperti itulah yang membuatku selalu ingin pulang, yah.
Karena ada yang mencariku.

Selamat ulang tahun kakakku, semoga targetmu terpenuhi.
Pendidikanmu bisa kau lanjutkan segera. Dan, yah semoga Allah merahmati semua langkahmu dalam membuktikan cintamu.
Semoga Allah meridai Syurga atasmu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar