Sabtu, 13 Februari 2016

My Valentine

     Farka tersenyum kecil, sempurna. Semua yang ia rencanakan telah tersusun rapi, tak akan ada yang terlewatkan. Jaket berwarna hitam itu akan mewakili rasa cintanya untuk hari ini.
Sesekali diliriknya cermin, bertanya apakah ada jerawat yang terlihat.
Dengan rapi menutupi beberapa bekas radang jerawat dengan alas bedak, memastikan tak ada yang boleh terlewatkan, dia harus sempurna.

     Farka terlihat sangat luar biasa dengan gaun berwarna merah yang dibelinya pekan lalu di salah satu Mall terbesar di kotanya. Demi memastikan dia tampil sempurna. Tidak lupa menyemprotkan parfum yang dihadiahkan Billy saat ulangtahun jadian.
Seisi sekolah cemburu akan kisah cinta Billy & Farka yang terkenal sangat indah, mesra dan High Class.

     Farka tidak akan membiarkan hari spesial ini berlalu begitu saja.
     Tidak boleh.
     Ternyata mengambil keputusan untuk menggunakan tas yang paling cocok untuk gaunnya, bukan hal yang mudah, lebih dari tujuh kali Farka melempar sembarangan tasnya, begitu yakin bahwa tas ini terlihat aneh digenggamannya, ia melemparnya, lantas mencari tas lain.

     Hingga pada pilihan yang kesembilan, tas berwarna maroon dengan detail pita kecil di pinggir kanan menjadi pilihannya. Tidak terlihat mewah, tetapi cukup untuk membuat gaunnya terlihat lebih manis.
Billy pasti jatuh cinta pikirnya.

     Lantas bagaimana Billy, dia sama sibuknya, diujung sudut kota atau lebih kurang lima belas kilometer dari tempat Farka, lelaki itu sibuk memilih sepatu mana yang akan dipakainya. Apakah dia akan menggunakan Sneaker atau sepatu Wakai. Entahlah dia belum mengambil keputusan.

     Sesekali matanya memastikan bahwa jam belum menujukkan pukul satu. Kekasih hatinya bisa menyeloteh sepanjang jalan jika Billy terlambat. Farka paling tidak suka menunggu.

     Sekitar lebih dari tiga puluh empat menit lewat dua puluh satu detik, mobil Billy sudah membelah jalan. Bingung memilih sepatu yang mana, lelaki itu memasukkan beberapa sepatu ke bagasi dan hanya menggunakan sandal hitam lusuh nan kumal kesukaannya. Masalah Sepatu biarkan Farka yang memilih, kekasihnya paling pandai untuk yang satu itu. Selera Fashionnya tinggi.

     Kurang tiga menit pukul satu, Billy sudah berada di rumah kekasihnya. Yah, dia tidak terlambat. Itu berarti mereka akan membicarakan hal menyenangkan selama perjalanan, tidak akan ada omelan panjang karena dia terlambat.

     Tak lama setelah mobil terparkir, Farka sudah menunggu di ruang tengah. Seolah tahu betul Billy tak akan terlambat untuk hari ini. Hadiah jaket untuk Billy ia sembunyikan di balik paper bag Hello Kittynya.

     "Sneakers! Terlihat lebih maskulin. Kau akan terlihat lebih baik." Fakha menjatuhkan pilihan pada sneaker navy untuk Billy. Untuk beberapa hal Farka tidak menyukai ketika kekasihnya menggunakan sepatu Wakai entah mengapa, Farka sendiri tak tahu alasannya.

     Apa yang mereka lalui bisa dikata, hari paling luar biasa bagi keduanya. Billy menyiapkan tempat makan Semi outdoor yang indah, beberapa bunga dibiarkan tergeletak begitu saja. Semilir angin memainkan rambut dan ujung gaun Farka, belum lagi dengan music romantic. Sempurna.
     Tak ada yang kurang.

     Billy terlihat begitu senang dengan jaketnya, meski terlihat ogah begitu melihat Paper bag Hello Kitty, tetapi itu luar biasa. Billy tahu jaket ini bukan jaket yang banyak terpajang di toko. Farka tidak akan membiarkan hal itu, kekasihnya tak pernah memberikan hadiah murahan.
     Dan Farka juga sama yakinnya ketika Billy menunjukkan hadiahnya, sepasang sepatu high heel 7 cm berwarna fushia.

     Apakah yang kalian pikirkan, Farka akan mendapatkan cokelat toblerone atau silverqueen?
     Jelas tidak!
     Farka mendapatkan lebih dari itu, Sekitar lima menit setelah acara tukar hadiah seorang Chef dating membawa dua piring appetizer sebuah White Chocolate berbentuk bulat besar, sebesar setengah batok kelapa, kemudian disirami lelehan cokelat panas hingga White Chocolatenya meleleh menganga, menampakkan ice cream Vanila dengan beberapa potong Strawberry segar dan blueberry.

     Jelas sekali bahwa makanan ini berkali kali lipat harganya dibandingkan toblerone yang banyak beredar hari ini.

     Farka tersanjung. Senyumnya mereka, dia perempuan paling bahagia.

     Billy sama puasnya, dia merasa sangat puas dengan kejutan yang ia siapkan. Tunggu masih banyak sekali kejutan menanti untuk Billy berikan pada kekasihnya.

     Tapi!
     Tinggalkan perkara Billy dan Farka yang sedang tersenyum bahagia.
     Aku ingin mengajak kalian berjalan-jalan lebih kurang dua puluh kilometer dari tempat Farka dan Billy duduk manis dengan hidangan appetizernya.
     Kita kembali ke rumah Farka, ada sesuatu yang lebih menarik di sana.

     Terduduk seorang ibu yang lanjut usia. Sibuk dengan pekerjaannya. Jemarinya yang keriput mendorong sehelai kain, menyatukan kain biru dengan kain renda. Apa yang ibu itu lakukan? Siapa ibu itu?
     Apa pentingnya?
     Bukankah kita sedang menonton kemesraan Farka dan Billy?
     Sekali lagi, apa pentingnya wanita rentan itu?

     Bunyi mesin jahit terdengar jelas di ruangan itu, ibu lanjut usia itu dengan kakinya yang sudah tak mampu lagi berlari sibuk memainkan telapak kakinya. Dorong ke depan dorong ke belakang. Telapak kakinya bermain. Mesin jahit juga bermain.
     Ibu menjahit sebuah gaun indah untuk Farka.

     Tunggu!
     Bukankah Farka mampu membeli gaun yang mahal di salah satu Mall terbesar di kotanya?
    
     Apa pentingnya bagian ini?

     Jika bagian ini tak begitu penting, akan kuajak pembaca menuju sudut kota, sekitar lima belas kilometer dari tempat ibu ini menjahit.

     Tujuan selanjutnya, Rumah Billy.
     Di tempat ini tak ada seorang ibu menjahit. Rumah ini kosong melompong sejak Billy meninggalkannya beberapa jam yang lalu.

     Lantas apa kabar baiknya?
     Apa bagusnya untuk cerita ini?

     Rumah ini kosong melompong sejak ditinggal Billy karena Saudara Billy dan ibunya sibuk berjaga di rumah sakit. Bergantian menengok Ayah Billy yang sejak sebulan terakhir terbaring koma.
Seluruh tubuh ibu lelah. Sangat lelah, tak ada kabar baik tentang Ayah Billy. Dokter hanya mondar mandir memeriksa tekanan darah Ayah.
     Hanya itu yang terjadi terus menerus. Membosankan sekali.
     Terlalu membosankan untuk Billy hingga lelaki itu lebih memilih bersama kekasihnya yang ia hadiahi sepasang sepatu merek terkenal.

     Apakah kisah Billy & Farka adalah kisah paling indah sepanjang hari ini?
     Apakah kisah ini membuat cemburu dan iri?

     Farka yang melupakan ibunya demi seseorang yang bukan siapa-siapanya, yang baru ia kenali beberapa tahun belakangan ini, mampu menandingi rasa cinta ibunya yang hamper mati karena melahirkannya, Apakah dia membuatmu cemburu? Apakah kau tidak melakukan kesalahan yang sama yang dilakukan olehnya?

     Billy yang tidak memedulikan Ayahnya yang terbaring koma demi membuktikan rasa cintanya menghamburkan uang yang merupakan jerih payah Ayahnya, Apakah dia membuatmu iri? Apakah kau telah membuktikan bahwa kau tidak melakukan kesalahan yang sama sepertinya?

     Apa ini sebenarnya?
    
     Terkadang kita salah memaknakan hari ini.
     Mereka sebut hari ini adalah hari kasih sayang.
     Tetapi bahkan kita sendiri lupa kasih sayang yang hakiki itu datang dari mana.
     Berlomba-lomba menghadiahi kekasih dengan hadiah terbaik, lupa kalau kasih sayang terbesar bukan berasal dari kekasih (dalam hal ini pacar).

     Kasih sayang terbesar itu dari Tuhan.
     Andai cokelat mampu menggambarkan kasih sayang Tuhan.
     Maka, seandainya seluruh lautan adalah cokelat, dan seluruh pohon di muka bumi adalah bunga.
     Hal itu pun belum cukup untuk mewakili rasa cinta Tuhan kepada umat-Nya.

     Maka cerdaslah!

     Dan belajar merenung.
     Sudahkah kita lalui hari ini dengan cerdas?
     Atau kita terdokrin budaya yang malah menjerumuskan pada kebodohan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar