Minggu, 31 Juli 2016

Loving Someone, I Shouldn't

Setelah sekian lama tak pernah menulis sesuatu, hari ini jariku kembali menari pada porosnya. Merangkai potongan potongan yang tak akan pernah sanggup kusampaikan secara langsung.
Jika seseorang membutuhkan keresahan untuk menulis, maka aku membutuhkanmu. Karena kaulah sumber keresahanku.

21:24
Esok adalah hari pertama di bulan Agustus. Seharusnya ini tidak terjadi, sungguh. Seharusnya semua ini berjalan biasa biasa saja. Mengapa, yah karena ini bukan hal yang biasa. Kehadiranmu bukan hal yang biasa.
Seharusnya kau sedang tertawa dan berbagi sepotong cokelat dengan wanita itu, entah harus kusebut dengan panggilan apa. Aku lebih suka memanggilnya wanita itu.
Wanita itu?
Senyumnya indah, matanya berbinar meski tertutup di balik kacamata, seindah binarmatamu jika menatapnya. Kalian sama bahagianya jika bersama.
Aku tak mengenal wanita itu secara langsung, kami tak pernah bertemu. Tuhan belum menakdirkan pertemuan diantara kami. Yang kutahu wanita itu meluluhkanmu, membuatmu jatuh cinta dan bertekuk lutut.

Lihat apa yang terjadi jika kau menjadi bagian dari kehidupan seorang yang suka menulis, kau akan menjadi bagian dari tulisannya, kau akan menjadi bagian dari keresahan yang ingin dia tuangkan.

Lalu siapa yang jahat di sini, wanita itu ataukah aku?
Yang jahat adalah sesuatu yang berjalan secara tidak biasa.
Seharusnya, kita tidak kembali bertemu.

Sebuah lagu mengiringiku dalam menulis tulisan ini. Lagu yang pernah kau kirimkan padaku di suatu malam yang membuatku benar benar menyukai lagu ini pada detik ke duapuluh mendengarnya.
Sudah kukatakan, kita keluar dari kebiasaan kita. Itulah kesalahanmu.
Awal mula keresahan ini.

Sesekali mataku yang sibuk memperhatikan tulisan yang tengah kuketik ini juga sibuk melirik
ponsel. Sibuk menunggu apakah kau sudah membalas pesanku ataukah belum.

Kesalahanku adalah mengiyakan sebuah pertemuan.
Siang itu aku mengiyakan sebuah pertemuan, tanpa pernah tahu bahwa itu adalah sebuah kesalahan.
karena setelah pertemua itu aku menyadari, kita melewati batas kita sebagai teman.

Yah, kita sama sama lupa bahwa kita hanya berteman.
Hingga semuanya berjalan tak seperti biasanya.
Entah, mengapa jadi sebodoh dan setolol ini.

Setiap detak jantungku terdengar lebih keras dari biasanya, yang kuinginkan saat itu adalah memilikimu. Karena menggenggam tanganmu saja tak akan pernah cukup.
Karena menyentuh wajahmu belum mendekati cukup.
Karena memeluk dan menciummu juga masih jauh dari definisi cukup.
Aku menginginkanmu lebih dari wanita itu menginginkanmu.
Kita sudah melampaui batas kita masing masing.

Dan pada hari ini,
Hari kesekian setelah aku jatuh cinta padamu.
Hari kesekian sejak aku mulai tergila gila padamu.
Aku ingin mengembalikanmu padanya.
Sungguh, kau miliknya bukan milikku.
Dan aku mulai bosan denganmu.

Hal paling menyenangkan adalah dia pacarmu, tapi dia mencintaiku.

Dunia ini jahat sekali, Bukan?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar