Sabtu, 03 September 2016

Tepat Dua Tahun yang Lalu

Hari ini sedikit berbeda dengan hari hari sebelumnya. Bisa dikatakan adalah fase terberat selama aku duduk di bangku sekolah menengah, bagaimana mungkin pagi ini aku terduduk di koridor sekolah setelah malam panjang kemarin.
Terlalu jelas kejadian tadi malam berputar putar di kepalaku. Entah, mengapa Tuhan memilihkan skenario ini untukku. Airmataku saja sampai saat ini belum kering. Masih saja basah.
Aku duduk di koridor sekolah, beberapa jam setelah kutahu Wanita terluar biasa dalam hidupku mengalami pendarahan di otak. Pembuluh darahnya pecah.
Beberapa waktu shalat kulalui di rumah sakit, mungkin menjadi hari hari terkhusyuhku dalam beribadah.
Andai Tuhan bisa mengubah skenarionya.

Tepat pukul satu siang itu, salah satu pamanku tiba tiba menjemputku. Berpesan pada guru mata pelajaran untuk mengizinkanku pulang. Jantungku sudah berhenti berdetak pada detik pertama melihat pamanku.
Aku lupa caranya bernapas, dan yang terlintas di kepalaku adalah pertanyaan "Ada apa dengan Wanita itu?"
Jantungku bekerja lebih cepat di perjalanan menuju rumah sakit, pertanyaan itu lebih gila lagi menghantuiku, napasku masih tersengal sengal.
Segala doa kurapalkan untuk kebaikan baginya.
Tak ada yang kuinginkan selain semuanya berjalan normal seperti hari minggu kemarin. Saat wanita itu masih bisa berdiri kokoh, memasak, dan mencuci pakaian kotorku.
Masih saja aku tak habis pikir, Wanita itu kini tergolek tak berdaya, sementara lebih dari setengah kehidupanku bergantung padanya.
Mengapa Tuhan menuliskan skenario sejahat ini padaku.



Setibaku di Rumah Sakit yang kutahu wanita itu dipindahtempatkan, menuju ruang perawatan yang lebih intensif, ICU.
tak perlu komando, kakiku otomatis berlari mencari ICU.
Beberapa orang di koridor Rumah sakit kusenggol semaunya. Tak peduli bagaimana tanggapan mereka, yang ada dipikirkan hanya Wanita itu.
Aku ingin menemuinya dan mencari tahu keadaannya.
Selama perjalanan menuju rumah sakit pamanku memilih untuk diam.
Tak memberikanku bayangan atas apa yang sedang terjadi pada Wanita itu.
Hal itu semakin membuatku ketakutan.

Setibanya kulihat beberapa keluarga sudah tersebar di ujung koridor, beberapa dari mereka kukenali, ada juga yang tidak.
Tapi siapa peduli dengan mereka. Aku bahkan sudah lupa dimana tas sekolahku yang tadi kubuang sembarangan begitu melihat koridor ruang ICU.
Bagaimana keadaan di dalam ruang ICU?
Semua rentetan kejadian ini benar benar membuat airmataku tak berhenti luruh.
Bahkan pipiku tak sempat kering.

Pasien di kamar ini sedikit lebih banyak.
Perawat juga lebih banyak dan lebih sering pulang balik melewatiku.
Wanita itu terbaring di sudut ruangan, kulitnya lebih pucat dari kemarin.
Infusnya sudah dipindahkan ke kaki.
Alat di ruangan ini juga lebih menyeramkan lagi. Bunyinya keras terdengar.
Belum lagi bau khas rumah sakit lebih terasa.
Wanita itu, ah dia

Di ruangan ini, aku melihat lebih banyak kegelapan.
Saudaraku tertuaku memelukku begitu aku sampai. Tante yang merawatku sejak kecil turut ikut memelukku.
Wanita itu tak menujukkan perubahan berarti sejak kemarin.
Dia terlihat lebih tersengal sengal menarik napas.
Tarikan napasnya terdengar lebih berat dari kemarin.
Lebih kesulitan lagi dari pada kemarin.
Beberapa keluarga mengelilinganya, dan Ayah juga ada di sana.
Aku berteriak bertanya ada apa, "Bagaimana keadaannya?"
Tak ada yang menjawab,
Aku hanya mendapati lebih banyak mata yang menatapku ibah.

Rasanya seperti ada sepuluh ribu juta sembilu menghunusku dalam satu tusukan.
"Apa yang terjadi padanya?"

Sore itu kuhabiskan dengan lebih banyak lagi menangis.
Mana tahan melihat saudaraku yang tak henti hentinya menangis.
Belum lagi ayah yang kutahu menyembunyikan rasa sakitnya.
Ayah tak akan berani menangis di depanku dan saudaraku.
Ayah tak mungkin melakukan itu.
Ayah berusaha menyembunyikan kesedihannya, tapi aku tahu dia bahkan lebih sedih dariku.

Dan saat perasaanku lebih tenang,
aku mengerti apa yang terjadi,
mengapa pamanku menjemputku dari sekolah.
Kondisi jantung dan paru parunya melemah, wanita itu perlu tindakan operasi untuk menyedot darah di kepalanya.
Napasku lebih banyak tertahan saat mendengar kabar itu, dan aku merasakan seluruh tulangku lupa caranya berdiri tegak.
Setiap detik terasa dua menit.
Aku tak pernah merasakan waktu selama itu berjalan seumur hidupku.
Ahhh, bagaimana mungkin Wanita itu terbaring seperti itu.
Bukankah dia terlihat begitu kuat selama ini.
Setiap pagi hingga malam hari, aku melihatnya mengurusi banyak hal. Mengurusiku yang malas makan, yang katanya harus disuap kalau sarapan.
Mengurusi pakaianku untuk ke sekolah.
Wanita itu beberapa hari yang lalu masih pergi ke arisan.
Memakai pakaian warna pink, aku ingat sekali bagaimana senyum berlesung pipitnya saat hendak pergi beberapa hari yang lalu.
Sibuk bercermin tiga kali sebelum benar benar mantap meninggalkan rumah.
Dan, kini wanita itu tergolek tak berdaya.



Hari ini, dua tahun yang lalu.
Kejadian itu terjadi.
Dan rasanya masih baru seperti kemarin.
Rasa sakitnya masih terasa.

Usiaku belum tujuh belas tahun masa itu.
Dan aku kehilangan ibuku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar