Senin, 05 Desember 2016

Anak Perempuan Daeng Sungguh

Anak Perempuan Daeng Sungguh
Oleh: Airly Latifah        
 
Perempuan, ratusan hingga jutaan eksemplar buku sudah terjual lebih di seluruh dunia hanya untuk mengulik dan menguak rahasia seorang perempuan. Sesosok yang ingin dimengerti tanpa ingin menyeruakan suara. Menarik memang, perempuan selalu punya sisi seksi untuk diperbincangkan, juga untuk diperebutkan. Harta, Tahta, dan Wanita. Bukan Harta, Tahta, dan Pria.
            Mengapa sosok ini menjadi sangat diagungkan?
            Cerita ini dimulai dari sebuah desa sederhana, beberapa perempuan sedang sibuk bergunjing. Menceritai anak gadis Dg. Sungguh yang katanya sudah dilamar oleh lelaki darah biru di kota Makassar. Salah seorang lelaki dengan Pa’daengang “Andi” yang bahkan lima ratus juta pun tak akan bisa membeli nama itu.
            Bagaimana mungkin Anak Gadis Daeng Sungguh yang tak begitu cantik akan dipinang keluarga darah biru, belum lagi Daeng Sungguh yang notabenenya seorang janda beranak lima. Pendidikan seadanya, pekerjaan menjual sayur di pasar. Kerap anaknya hanya ikut berjualan dengan dia. Tak ada yang spesial. Hanya anak terakhir Daeng Sungguh yang mampu menyelesaikan pendidikan sampai Esema, yang lain bertembok di sekolah dasar. Terhenti di bangku kelas tiga karena hobinya bermain di sungai saat waku sekolah.
            “Daeng Sungguh?  Jandaiya?” tetangga lain memperjelas, takut sekali salah orang. “Iyo! Daeng Sungguh itu mi!” jawab tetangga lain mengiyakan. Mereka sama sekali belum bisa menerima kenyataan ini. Belum habis pikir di cerita dongeng mana anaknya bisa ketemu dan membuat lelaki darah biru jatuh cinta.
            Andi Anshar namanya, seorang lelaki dari kota Makassar, dengan berat hati harus meminang gadis yang dijodohkan dengan Ibunya. Alasannya karena keluarga mereka pernah berhutang sewaktu Ibunya belum menjadi menikah dengan Bapaknya. Utang yang harus dibayarkan dengan pernikahan. Sesuai perjanjian yang mereka sepakati jika benar Ibunya menikah dengan Bapak.
            “Siapa namanya, Bu?” Tanya Andi Anshar. Hatinya berat sekali dengan pernikahan ini, bagaimana mungkin dia hendak menikahi seseorang yang tak pernah ia temui sebelumnya, belum lagi melihat latar belakang calon istrinya. Mengerikan. Itu kata yang pantas untuk dirinya.
            “Bunga.” Jawab ibu. Dengan senyum yang berusaha meyakinkan anak bungsunya, “Dia perempuan yang baik. Jelas dia akan menjadi Istri yang soleha untukmu, Nak!”
            “Apa tidak ada perempuan lain, Bu?”
            Setelah pernikahan, kehidupan perempuan bernama Bunga itu berubah, sangat berubah. Perempuan yang dipinang darah bangsawan dan dibawa pergi meninggalkan pedesaan menuju perkotaan yang maha pesat perkembangannya, pakaian mahal, kalung berlian, rumah mewah, mobil dua pintu. Bunga meninggalkan Makassar. Semua itu yang akan menjadi gambaran sempurna atas pemikiran tetangga Daeng Sungguh yang mengkhayalkan kedirian Bunga.
            Hanya saja, kenyataannya tidak begitu. Sekeras apapun usaha yang dilakukan oleh Bunga untuk meluluhkan hati suaminya, menjadi sia-sia. Bahkan tubuhnya tak pernah disentuh oleh Andi Anshar, lelaki itu lebih memilih bersetubuh dengan perempuan lain. Yang tidak sah baginya. Mobil mewah? Bunga hanya naik mobil biasa saat meninggalkan desa, selanjutnya berangkat naik pesawat meninggalkan Makassar. Menuju kota yang nun jauh di sana. Selebihnya tak ada lagi. Jangan bayangkan pakaian mewah, semua pakaiannya hanya itu itu saja, hanya apa yang ia bawa dari desa.
            Daeng Sungguh, masih rutin menerima surat dari anaknya, berkabar dengan putrinya yang bernama Bunga. Hanya saja kenyataan itu ditutupi rapat-rapat, gadis itu berkata semuanya berjalan baik-baik saja di sini. Suaminya sedang sibuk dengan beberapa proyek, dia sudah dua kali dibelikan mobil, juga tangannya yang tak muat lagi jika harus memakai seluruh berlian.
            Tetangga Daeng Sungguh beberapa masih sibuk membayangkan mobil dua pintu milik Bunga, rumah mewah berlantai keramik yang dipijak anak gadis Daeng Sungguh. Seluruh antero desa cemburu pada Bunga.
            Dan Bunga, tak cemburu pada siapapun. Perempuan ini masih selalu melepaskan sepatu suaminya ketika suaminya pulang dengan bau alkohol di mulutnya, dengan bekas lipstick wanita lain di kemejanya. Bahagia, perempuan ini merasa bahagia. Bukan atas apa yang dia miliki. Tapi atas apa yang tak orang lain miliki.
            Kesetiaan
            Dan sebuah prinsip, Istri adalah pakaian suaminya. Maka tak satu pun hal buruk tentang suaminya yang akan ia bagi pada orang lain. Tidak akan.
            Bunga, kau benar benar bunga. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar