Sabtu, 31 Desember 2016

Apapun yang Terjadi Jangan Temui Aku

Semuanya berjalan baik, aku masih tersimpuh di sini mencoba tersenyum dengan semua kenyataan yang mengoyakku. Aku bukanlah diriku yang kemarin, bukan lagi diriku yang mampu membusungkan dada lantas bersikap semuanya dalam kendaliku.
Tidak. Jam berputar lebih lama dari biasanya, aku terpatut lebih sering dari yang seharusnya.
Tak ada perubahan, kondisiku belum membaik. Aku masih saja ada di sini. Menangisi kesedihan yang sama.

Aku tak tahu bagaimana cara hati bekerja, aku tak bisa menghentikan ini.
Bahkan aku tak tahu kenapa belakangan ini persediaan air mataku begitu banyak. Seolah-olah tersupply terus menerus, tak mengering.
Aku berharap ada sebuah buku panduan mengenai hati.
Agar aku tahu bagaimana caranya menghentikan kesedihan yang tidak berkesudahan ini, dan agar aku tahu bagaimana membolak balikkan keadaan ini.

Aku berusaha atas seluruh kadar yang kupunya. Aku telah mencintaimu menurut batas kewajaranku, hingga aku lupa bahwa batas kewajaran itu ternyata ada pada batas ambang maksimal.
Matahari masih terbit pagi ini, seolah menyapaku, seolah ingin memberitahuku bahwa hari ini cerah, keluarlah dari semua kesedihan yang kau pelihara.
Tidak, aku tidak bisa. Kakiku terkerangkeng di sini.
Matahari selalu baik.
Tapi aku selalu berharap matahari tak terbit lagi, setidaknya aku bisa berusaha tidak bersedih di kehidupan selanjutnya.

Aku lebih tak ingin kau melihatku dalam keadaan ini, sungguh.
Dan terlebih aku tak ingin melihatmu karena kau hanya akan menggores luka yang lebih dalam, kau hanya akan menghunus pedang di lukaku yang menganga.
Apapun yang terjadi jangan temui aku.
Kelak, apapun yang terjadi jangan temui aku.
Kau hanya akan selalu menjadi sakit terdalamku.
Kau hanya akan selalu menjadi luka yang menganga bagiku.

Jangan temui aku, bahkan di kehidupan selanjutnya,
Jangan.
Jangan pernah!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar