Kamis, 29 Desember 2016

Desember, 2016


            Desember, 2016.

            Kisah ini akan menjadi penutup tahun bagiku. Bagi seorang putri Apoteker yang terkenal dengan senyum manisnya. Ibu selalu melarangku untuk mencintai seseorang yang bukan garis keturunan keluarga, sesering ibu menyampaikannya, sesering itu aku tidak mengindahkan.

            September dua tahun kemarin mengajarkan aku apa itu kehilangan, dan desember tahun ini mengajarku perihal yang sama. Kenapa aku harus mengulang mata pelajaran ini? Apa karena kemarin aku kurang sedih? Atau apa karena aku mendapat nilai E?

            Ahh, mungkin ini mata pelajaran lanjutan, sama seperti kemarin aku belajar Sistem Informasi Akuntansi, dan semester depan aku harus belajar PKA Sistem Informasi Akuntansi.

            Aku mengerti sekarang, kenapa wanita yang melahirkanku melarangku untuk jatuh cinta. Dia begitu tahu bagaimana rasanya kehilangan, dia begitu mengerti. Pasti. Bahkan, dia tahu apa yang kurasakan saat ini. Sangat tahu.

            Ini patah hati terkeras yang putri bungsumu tengah rasakan. Yang ia rajut dalam hitungan tahun. Sungguh, putrimu sedang tidak baik-baik saja. Sesuatu tengah menohok dadanya.

**

            Apa yang terjadi selama tahun berlalu?

            Aku terbiasa menutup mata sambil memikirkanmu,

            Aku terbiasa membayangkanmu ketika aku terjaga di pagi hari,

            Aku terbiasa mencintaimu, aku sangat ingat betul bagimana mata teduh itu menantapku. Berkata bahwa semuanya baik-baik saja, berkata bahwa tak akan ada yang berubah, aku ingat sekali bagaimana caramu menenangkanku.

            Aku teringat ketika suhu badanmu menghangat, kubelikan beberapa hal yang kupikir akan membuatmu merasa lebih baik, beberapa kaleng susu dan minuman kaya vitamin C. Dan memastikanmu beristirahat, tidak keluar rumah, tidak keluyuran kemana-mana.

            Aku teringat bagaimana ketika kita menonton sebuah film, kau lebih banyak berbicara, aku selalu tahu itu. Kau tipikal orang yang tak tahu bagaimana caranya diam meskipun hanya sepersekian detik.

            Aku terbiasa merapalkan namamu dalam doaku, dan kini, seketika, kebiasaan itu harus berubah.

            Apa kau ingat masa itu, kau bertanya ada berapa peniti yang kau kenakan, aku salah menebak, tebakan salah seorang temanku yang benar, kalau tidak salah jumlahnya ada enam. Tersebar dimana-mana. Seragam sekolahmu sudah sangat kekecilan.

            Kau ingat bagaimana  raut wajahmu saat kutanya apakah kau terlambat hari ini ataukah tidak. Selanjutnya jika ia kamu terlambat, kau akan cerita bagaimana caramu memanjat gerbang sekolah. Kau selalu bangga menjadi pendaki gerbang masa itu, kau bilang adrenalinmu terpacu. Kini, aku tahu yang memacu adrenalinmu bukan lagi tembok setinggi satu setengah meter, pemacu adrenalinmu kini panggung dan mic.

            Izinkan aku mengenang semua hal yang pernah kita lakukan dalam tulisan ini.

            Kau selalu punya cerita yang berbeda setiap harinya, dan aku selalu setia mendengarkan sambil duduk manis di sofamu. Kau memberitahuku hampir segalanya.

            Ratu alayku, sekarang aku ada dititik tak percaya kau pernah memanggilku dengan sebutan itu, atau panggilan Mbob yang kuberikan karena kau selalu benci jika harus melewatkan satu saja episode berulang Spongebob di Global TV. Saat itu kau sudah terlalu tua untuk tanyangan itu, bodoh.

            Blog, kau ingat itulah kisi-kisi mengetukku. Itulah caramu menyentuhku untuk pertama kali, bertingkah seolah kau tak tahu bagaimana cara mengganti tamplatenya, dan dengan bodohnya aku percaya.

            Kau ingat perutku yang mulas saat ulang tahun ke tujuh belasmu? Aku kehujanan karena harus berputar-putar keliling kota demi sebuah kejutan sederhana, di tengah hujan. Dan aku berakhir sakit perut Karena masuk angin,

            Kau selalu benci karena aku membuatmu penasaran, juga aku selalu suka membuatmu penasaran. Kau suka ditantang, dan aku suka menantangmu. Bagaimana mungkin kita sebodoh ini dulu!

            Aku bahkan bisa ingat dengan jelas rumah makan-rumah makan mana yang pernah kita singgahi. Atau toko toko mana yang kau singgahi untuk membelikanku cokelat. Ahh, cokelat, kau tahu aku tak makan cokelat lain selain cokelat putih. Vanilla. Kau juga jatuh cinta pada parfum Vanilla itu. Kau sangat kesal saat mencium wangi itu tetapi yang kau dapati bukan diriku. Kau tidur lebih nyenyak di Bandung setelah memakai parfum itu.

            Cina. Kau dulu suka mengumpatku dengan panggilan itu.

            Semua lukisan dan boneka darimu, masih tersimpan rapi, dan tak akan kubiarkan robek atau kotor. Tenang, aku tahu bagaimana memperlakukan mereka. Bahkan setelah semua ini.

            Kita selalu bertingkah aneh di depan cermin, entah. Kita meniru sampul sebuah film, atau apapun itu. Kita selalu bertingkah aneh. Ahh, garis merah di hidungmu. Aku paling suka menggambar itu. Hanya itu kemahiranku menggambar.

            Aku jatuh cinta pada orang yang sama, berkali-kali, jatuh cinta lagi, lagi, pada orang yang sama. Berbilang tahun. Bagaimana mungkin aku bisa berhenti seperti simsalabim?

            Bagaimana mungkin aku bisa bersikap seolah-olah tak ada yang terjadi?

            Kau seseorang yang benar-benar suka mengobrol, tak kenal waktu. Dan yah, kau lebih suka mendominasi percakapan. Aku suka mendengarmu, sangat suka.

            Aku pernah mengetuk pintu rumahmu, tapi kau tertidur. Beberapa menit kemudian aku memutuskan pulang, selanjutnya yang terjadi kau meminta maaf dengan menggambari semua tembok di rumahmu dengan kata-kata penyesalan. Bagaimana bisa aku bersikap aku tak pernah melihat tulisan di tembok itu? Atau ratusan foto yang kau bentuk menyerupai wajahku?

            Aku seseorang yang hidup dalam aturan dibenturkan dengan kamu, dan entah kenapa aku bertahan sejauh ini. Aku tak suka melanggar aturan lalu lintas, tapi tidak begitu dengan kamu. Aku tidak suka terlambat masuk kelas, kamu suka memanjat pagar sekolah.

            Ibarat ying dan yang. Kita seperti itu.

            Kita saling memenuhi, mengisi.

            Hampir seluruh sekolah tahu siapa kita, tahu bagaimana cerita kita. Tahu siapa kita.

            Kau suka sekali makan bakso depan sekolah, juga bakso di Cibaduyut.

            Aku mencintaimu, sungguh.

            Bukankah aku pernah bercerita, tentang aku yang kehilangan sendalku saat bersama ayah tapi aku memilih tidak menyampaikannya pada Ayah.

            Aku mencintaimu seperti itu. Aku sampaikan atau tidak, yah aku tetap dalam perasaan itu. Aku tahu semua ini tidak mudah. Apa yang terjadi tidak sesuai dengan harapanku dan harapanmu. Tapi, sungguh. Bagaimana perasaanku, bagaimana aku. Biarlah menjadi rahasiaku. Kau tak harus tahu itu.

            Berbahagialah, karena aku, bukan lagi nyaman yang kau cari.

            Dan, kau tak perlu bilang, bahwa aku tak tahu diri. Sungguh, kau tak perlu berkata itu. Biarkan ini menjadi urusanku. Biarkan semua ini menjadi tugasku. Jalan saja terus ke depan. Tak ada yang harus kau lihat di belakang.

**

            Ibu, anakmu sedang tidak baik-baik saja. Hanya saja anakmu cukup tahu, bahwa nikmat Tuhan terlalu luas dan terlalu banyak untuk menangisi satu kehilangan.

            Ibu, anakmu cukup tahu, bahwa perempuan yang baik untuk lelaki yang baik. Anakmu hanya perlu terus memperbaiki diri, untuk cinta yang lebih berkelas.

            Ibu, anakmu benar tidak sedang baik-baik saja, tapi percayalah. Dia tahu bagaimana cara berdiri kembali. Sungguh, dan dia sedang tersenyum saat menulis ini.

            Ibu, apakah kau tahu satu hal lagi? Satu hal yang sangat penting?

            Ahhh, aku rasa ibu tahu, dan biarlah hanya ibu yang tahu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar