Selasa, 03 Januari 2017

Surat Cinta Pertama Tahun Ini

Teruntuk kepada engkau, yang kusangat kucintai.

Bagaimana pergantian tahun ini kau rayakan?
Aku tahu, aku tahu kau menghabiskannya dengan siapa.
Aku tahu kalian melakukan itu untuk menamparkan kenyataan tepat di bola mataku.
Aku tahu kenapa.
Dan, aku mengerti.

Aku melawati pergantian tahun ini dengan meringkuk di ruangan biru berukuran tiga kali tiga. Aku bahkan tak tertarik melihat letupan kembang api di atas langit. Aku tahu bagaimana rasanya menjadi langit. Yang ditembaki dari segala arah, orang pasti berpikir langit akan senang dan baik-baik saja. Tapi aku tahu langit tidak sedang baik-baik saja saat hampir seluruh sisi pada dirinya ditembaki dari segala arah, dalam satu waktu.
Langit bilang rasanya sangat sesak.
Dia merasa terpojokkan.
Dan yang menyedihkan orang-orang hanya menertawainya, tertawa bahagia dia atas sesak yang ia kandung sendiri.
Siapa peduli dengan sakitnya langit?
Siapa peduli dengan perempuan yang meringkuk diam di kamarnya?
Siapa peduli, Bodoh!

Apa sebuah perpisahan itu?
Apa kau bisa menjelaskan padaku, apa arti sebuah perpisahan?
Di saat kau benar-benar masih melekat pada diriku setelah semua luka yang menganga.
Di saat aku bahkan belum membereskan sisa yang ada.
Kau masih terlalu nyata bagiku.
Orang bilang kita sudah berpisah. Tapi, aku tahu mereka berbohong.
Aku bisa merasakanmu, kau masih berdetak dalam rindu dan tidurku.
Kau masih menemani langkahku setiap harinya, bagaimana mungkin hal seperti ini mereka sebut perpisahan? Saat kau masih menemaniku!!
Kau masih ada, bahkan belum pergi sama sekali.
Apa mereka menyebut ini perpisahan karena peluk itu tidak lagi melingkar di diriku?
Lantas kenapa aku masih merasakan tanganmu yang melingkari punggungku.
Bagaimana mungkin aku sembuh, jika obatku dibawa pergi menjauh.

Hingga hari ini kujuga masih mencari penawar rindu.
Aku lebih membutuhkan penawar rindu daripada penawar luka.
Karena yang kutahu rinduku lebih besar dari semua luka yang kau tancapkan ke dadaku.
Karena aku tahu sekeras apapun kau membanting pintu itu, aku masih bisa menemukan diriku dalam dirimu.
Sama halnya aku menemukanmu dalam diriku,
Adakah penawar untuk rindu yang sekebal ini?
Untuk rindu yang sudah mengakar?
Untuk aku yang sudah mulai gila?
Adakah obat untuk semua ini?
Lantas, bagaimana jika obat untuk semua ini hanyalah kau.
Aku tak akan sembuh selamanya. Aku akan memelihara sakit ini lebih lama, aku tak percaya ini terjadi.
Lebih tak percaya lagi pada kenyataan yang kau hantamkan di bola mataku.

Kenapa aku jatuh sedalam ini, Tuhan.
Dan kenapa kau tidak menarikku dari lubang yang sudah kugali menembus dasar bumi tanpa sadar.

Labirin terdalam yang kau selami?
Bagaimana kau masih bisa memanggilku dengan panggilan itu saat kini kau tengah menyelami labirin yang lain?
Dan bergerak lebih dalam setiap harinya?
Bagaimana mungkin kau masih sanggup mengatakan itu?
Di saat kau telah bersikap setega ini?
Persetan dengan kata tak tahu diri!
Aku tak peduli.
yang kutahu aku masih menyebut ini sebagai surat cinta.
yang kutahu aku masih menangisimu.
yang kutahu aku merindukanmu.

Teruntuk pada engkau, yang sangat kucintai.
Terima kasih atas semua sakit yang kau biarkan menancap di dadaku.
Bagaimana kabarmu hari ini?
Aku rindu, aku sangat ingin mendengar suaramu.
Aku rindu pada semua cerita dan suaramu.
Sudah sangat lama aku tak mendengar suaramu.

Makassar,
 
 
 
 
 
Dari perempuan yang menggali makamnya sendiri

Tidak ada komentar:

Posting Komentar