Selasa, 28 Februari 2017

Kamu Penyebabnya

Kau tak akan pernah tahu kata terlambat ada di detik ke berapa.
Sama halnya dengan dirimu, kau juga sama tidak tahunya.
Sempat aku berpikir kau malah datang di detik yang paling terlambat, detik kesekian puluh ketika aku memilih berhenti untuk membuka hati. Kau datang di saat itu.
Namun, rupanya aku yang paling salah tafsir saat itu, akulah yang paling tidak tahu kata terlambat ada di detik yang mana.
Karena di pertemuan pertemuan selanjutnya, kau meyakinkanku bahwa kehadiranmu tak terlambat.

Bagaimana mungkin kau bias begitu apik memaikan peran ini, datang dengan segala hal yang sudah kutunggu sejak dulu.
Ah, binar mata saat kau tersenyum bisa membuatku pilas.
Belum lagi saat kau melempar senyum itu padaku, Skakmat!
Bentengku roboh sempurna.

Aku mulai bertanya bagaimana kau mampu merajut kembali sesuatu yang sudah tersobek-sobek menjadi puluhan bagian, kau menyulapnya kembali utuh, tanpa luka. Tanpa bekas. Tanpa tanda Tanya. Kau melakukannya begitu saja, tanpa kuminta.
Semua kegilaan ini bermula saat aku mulai berpikir untuk kembali berdiri, hampir seluruh bagian dalam diriku memintaku untuk kembali meringkuk di sudut itu, menunggu seseorang menarikku dari sana. Namun, jika tempat ini bak sebuah ruangan yang dipenuhi orang, maka aku sama sekali tidak akan mencolok. Sama sekali tidak akan terlihat, apalagi untuk ditarik oleh seseorang, untuk membantuku berdiri.
Aku mulai berpikir untuk kembali berdiri.
Satu tarikan usaha. Berhasil.
Hanya saja aku perlu dua detik pascanya untuk kembali terjatuh, lututku terlalu lemah. Aku membutuhkan sesuatu untuk menopangku.
Sungguh, aku butuh kekuatan baru. Aku benar-benar kehilangannya.
Lagi, aku salah.
Meski aku meringkuk di sudut ruangan, yang memang benar sulit sekali terlihat diantara orang-orang yang menari ditambah lampu ruangan yang remang-remang. Aku sempurna sulit ditemukan.
"Sulit, bukan berarti tak mungkin, bukan?"
Dan hal itu yang kudapati saat kau berdiri tepat di hadapanku, dengan senyum berbinar itu, dengan alis yang mengernyit. Aku tahu sekali raut itu.
Kau tetap berdiri di sana, hanya terdiam.
Membaca keadaan, menarikku atau membiarkanku meringkuk di sana.
Mempertimbangkan apakah kau mampu menyuakankanku.

Kejahatan tertinggi dalam mencintai adalah tidak menyampaikann rasa cinta itu sendiri.
Yah, itulah yang kau lakukan.
Hanya saja, aku mulai luput satu hal, benar kau tak mengatakkannya, tapi sebenarnya kau menunjukkan rasa itu meski abu-abu sekali.

Semakin lama kau berdiri, entah menunggu apa.
Semakin besar pula keyakinanmu untuk menarikku.
Dan benar.
Kau menarikku.
Kupikir kau terlambat.
Aku salah, kau tak pernah terlambat.
Kau datang di waktu yang sangat tepat, saat aku membutuhkan kekuatan baru. Penopang yang baru dan perlindungan yang baru.
Yah, kau penyebabnya.

Penyebab sebuah cerita lama tertutup rapat dan sebuah cerita baru dimulai.
Karena Tuhan tak sekejam pradugaku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar