Senin, 17 April 2017

Kamu dan Semua Hal yang Romantis

Saat ini aku hanya ingin menulis hal yang menarik dalam kepalaku, semuanya tentangmu. Berbaris rapi seperti anak Paskibraka yang hendak ikut kompetisi. Sama rapinya dengan ketikan komputer berspasi dua. Yah, semuanya berbaris rapi berkisah tentangmu, yang acap kali membuatku heran kenapa tak habis cerita tentang kamu tiap-tiap harinya tercoret di buku kita.

Di mulai dengan sikapmu yang selalu hangat dan selalu ada, sampe pada tanteku yang mulai bertanya siapa dirimu, sosok yang sering hilir mudik di depan rumahnya saat bertandang ke rumah. Kau selalu tahu bagaimana cara mengambil perhatian. Ah, lagi aku tak bosan jika harus bercerita tentangmu.

Malam yang berjalan lebih lambat saat bertelepon denganmu, atau siang yang berjalan sangat membosankan saat kita tak bertemu di kampus. Atau kamu yang baru saja membuat seluruh teman kelasku mengejek kita karena membawakanku betadin sebab kecelakaan pagi ini.

Seringkali aku terduduk linglung, bagaimana mungkin hari ini kita saling merindukan hanya karena seharian tak bertemu, meskipun komunikasi kita lancar di dunia maya. Rindu, kau selalu bilang itu jika tidak bertemu denganku meski hanya dalam satu perpindahan tanggal kalender. Sedang dulu, kita hanya saling melewati, aku yang tak tertarik mengetahui siapa namamu, dan kamu yang tak pernah berhasil menyapaku, atau kamu yang ketika kita berpapasan, hanya kulewati begitu saja.
Bak sihir nenek lampir yang tinggal di tengah hutan, semuanya berubah. Kau tak bisa sehari saja tak mendengar suaraku atau tak bertemu denganku.

Ah, kau selalu penuh dengan semua hal romantis. Spion roda duamu saat bersamaku beralih fungsi saat aku duduk di jok belakang. Kedua kaca itu akan mengarah ke wajahku, untuk sesekali kau lihat saat aku tertawa atau aku bercerita di balik punggungmu. "Spion itu kebelakang, bukan ke mukaku." aku selalu bilang begitu, dan lagi kau tak peduli, tak juga beranjak mengembalikan spion itu ke posisi semula. Kenapa Tuhan memberikanku hadiah semanis ini?

Kecelakaanku beberapa hari yang lalu membuatku menyadari sesuatu, bahkan sebelum kita sedekat ini, kau telah melakukan banyak hal untukku, terlalu banyaknya sampai aku tak bisa menyebutkan semuanya. Hari itu, harus pulang pukul dua belas malam sendirian, yang jaraknya lebih kurang lima belas kilometer dari rumah. Ternyata kau mengikutiku, memastikan perempuan ini sampai di rumah dengan selamat, sampai salah seorang teman berkata, "Jangankan jam 7 pagi, Tif. Tengah malam pun dia akan selalu ada untuk kau."
Aku tertegun, aku baru tahu itu. Dasar, bodoh, aku bisa pulang sendiri. Menyebalkan.

Sempat aku berpikir, bagaimana mungkin kau memenangkan hati saudara-saudara dan keluargaku dalam satu pertemuan, membuat mereka menyukaimu dalam satu tatapan. Malah kakak tertuaku sangat sering menyebut namamu akhir-akhir ini. Hal yang tak pernah dia lakukan pada beberapa kekasihku dahulu. Atau tanteku yang langsung menyukaimu dalam satu tatapan, tersenyum. Dan bilang, dia orang yang sangat baik.
Tuhan, apakah tulisan ini akan membuatmu melayang menghantam langit-langit kamar?

Kamu, ternyata sudah berusaha sejak lama. Sejak acara angkatan kau berusaha mengajakku bicara, "Apa kabar mantanmu?" pertanyaan aneh yang langsung membuatku mengernyitkan dahi dan kehilangan selera merespon. Bodoh, aku tak mengenalmu, kau tak tahu apa-apa tentang mantanku, aku tak tahu apa-apa tentangmu, dan seketika kau bertanya seolah aku sudah cerita banyak hal tentangnya padamu. Hari itu kau gagal menyentuhku.
Hal lain yang tak habis pikir bagiku, bagaimana mungkin aku semenarik itu hingga kau sampai mencari tahu tentangku di Google.
Tuhan, sepenasaran itukah kau?
Meski tak bisa kupungkiri, informasi mengenaiku cukup banyak tersebar di sosial media. Kau berhasil mengumpulkan kepingan memoriku.

Kau tahu, aku sangat suka caramu menatapku. Dulu aku sangat berharap menemukan seseorang yang akan menatapku dengan cara itu, tapi hari ini aku sadar, tatapan seperti itu terlalu meluluhkan, terlalu meluluhkan, sampai aku tak sanggup.

Kau berhasil mengetukku  saat aku jatuh tersungkur, kau tidak berusaha menarikku dari lubang itu, yah, kau hanya diam. Lalu pelan-pelan ikut masuk ke lubang, duduk di sana. Diam. Menemaniku. Aku bahkan tak menyadari keberadaanmu, sungguh. Itu kebodohanku. Orang-orang di sekitar sudah mulai mencoba memberitahuku, tapi aku terlalu terluka untuk berusaha menyadari hal itu. Hingga, saat luka itu mulai mengering, saat aku mulai berdiri untuk sembuh. Aku menemukanmu, masih duduk di sampingku, dan perlahan mulai menyadari, Tuhan tak pernah sejahat yang kupikirkan.
Kau tidak memaksaku berdiri. Kau menungguku hingga aku siap berdiri. Dan hingga hari itu tiba, aku menemukan diriku tersenyum, dan kau memenangkan senyuman itu.

Apa yang kau lalui untuk sekadar membuatku sadar, bukanlah hal yang mudah. Mengingat aku yang tak menyadari kau berada di sampingku, dan aku yang terlalu takut untuk mengakui keberadaanmu.
Untuknya kau tak pernah menyerah atasku.
Yah, kau tak pernah menyerah padaku.
Jangan pernah menyerah, padaku.
Kumohon, jangan.

Kau tahu, di bagian ini.
Aku bersyukur, untuk semua yang terjadi.
Untuk semua skenario yang Tuhan susun, semua skenario ini bermuara padamu. Membuatku akhirnya menemukanmu, membuat kita mematung, dan memilih untuk tetap tinggal.
Kamu,
Seketika semuanya menjadi tentang kamu, aku bersyukur lagi, Tuhan mempertemukan kita.
Terima kasih, telah hadir. Telah memilih untuk tinggal, dan semua yang telah terjadi.
Aku akhirnya, menemukanmu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar