Senin, 19 Juni 2017

-

            Saya bingung dengan teman-teman saya. Mereka belajar banyak hal tetapi berkata jujur saja sangat sulit.
            Saya bingung pada teman-teman saya, menuntut pemerintah untuk tunduk terhadap aturan, lagi meski hanya kuliah lebih pagi dan dosen sudah menunggu di depan kelas, sudah merutuk. Ahh, kenapa harus ada hari senin.
            Saya bingung pada teman-teman saya, menuntut biaya pendidikan murah sedang tanggungjawabnya untuk belajar dengan benar dan tekun saja tidak diindahkan. Saat ulangan malah mencontek di selembar kertas.
            Saya bingung pada teman-teman saya yang menuntut banyak hal sedang untuk menuntut dirinya saja tak mampu.
            Saya bingung pada teman-teman saya yang berteriak-teriak ditengah jalan menuntut keadilan sedang orangtuanya membeli almamater itu untuk menjadikannya terdidik.
            Ah, niat baik anda untuk siapa.


Senin, 17 April 2017

Kamu dan Semua Hal yang Romantis

Saat ini aku hanya ingin menulis hal yang menarik dalam kepalaku, semuanya tentangmu. Berbaris rapi seperti anak Paskibraka yang hendak ikut kompetisi. Sama rapinya dengan ketikan komputer berspasi dua. Yah, semuanya berbaris rapi berkisah tentangmu, yang acap kali membuatku heran kenapa tak habis cerita tentang kamu tiap-tiap harinya tercoret di buku kita.

Di mulai dengan sikapmu yang selalu hangat dan selalu ada, sampe pada tanteku yang mulai bertanya siapa dirimu, sosok yang sering hilir mudik di depan rumahnya saat bertandang ke rumah. Kau selalu tahu bagaimana cara mengambil perhatian. Ah, lagi aku tak bosan jika harus bercerita tentangmu.

Malam yang berjalan lebih lambat saat bertelepon denganmu, atau siang yang berjalan sangat membosankan saat kita tak bertemu di kampus. Atau kamu yang baru saja membuat seluruh teman kelasku mengejek kita karena membawakanku betadin sebab kecelakaan pagi ini.

Seringkali aku terduduk linglung, bagaimana mungkin hari ini kita saling merindukan hanya karena seharian tak bertemu, meskipun komunikasi kita lancar di dunia maya. Rindu, kau selalu bilang itu jika tidak bertemu denganku meski hanya dalam satu perpindahan tanggal kalender. Sedang dulu, kita hanya saling melewati, aku yang tak tertarik mengetahui siapa namamu, dan kamu yang tak pernah berhasil menyapaku, atau kamu yang ketika kita berpapasan, hanya kulewati begitu saja.
Bak sihir nenek lampir yang tinggal di tengah hutan, semuanya berubah. Kau tak bisa sehari saja tak mendengar suaraku atau tak bertemu denganku.

Ah, kau selalu penuh dengan semua hal romantis. Spion roda duamu saat bersamaku beralih fungsi saat aku duduk di jok belakang. Kedua kaca itu akan mengarah ke wajahku, untuk sesekali kau lihat saat aku tertawa atau aku bercerita di balik punggungmu. "Spion itu kebelakang, bukan ke mukaku." aku selalu bilang begitu, dan lagi kau tak peduli, tak juga beranjak mengembalikan spion itu ke posisi semula. Kenapa Tuhan memberikanku hadiah semanis ini?

Kecelakaanku beberapa hari yang lalu membuatku menyadari sesuatu, bahkan sebelum kita sedekat ini, kau telah melakukan banyak hal untukku, terlalu banyaknya sampai aku tak bisa menyebutkan semuanya. Hari itu, harus pulang pukul dua belas malam sendirian, yang jaraknya lebih kurang lima belas kilometer dari rumah. Ternyata kau mengikutiku, memastikan perempuan ini sampai di rumah dengan selamat, sampai salah seorang teman berkata, "Jangankan jam 7 pagi, Tif. Tengah malam pun dia akan selalu ada untuk kau."
Aku tertegun, aku baru tahu itu. Dasar, bodoh, aku bisa pulang sendiri. Menyebalkan.

Sempat aku berpikir, bagaimana mungkin kau memenangkan hati saudara-saudara dan keluargaku dalam satu pertemuan, membuat mereka menyukaimu dalam satu tatapan. Malah kakak tertuaku sangat sering menyebut namamu akhir-akhir ini. Hal yang tak pernah dia lakukan pada beberapa kekasihku dahulu. Atau tanteku yang langsung menyukaimu dalam satu tatapan, tersenyum. Dan bilang, dia orang yang sangat baik.
Tuhan, apakah tulisan ini akan membuatmu melayang menghantam langit-langit kamar?

Kamu, ternyata sudah berusaha sejak lama. Sejak acara angkatan kau berusaha mengajakku bicara, "Apa kabar mantanmu?" pertanyaan aneh yang langsung membuatku mengernyitkan dahi dan kehilangan selera merespon. Bodoh, aku tak mengenalmu, kau tak tahu apa-apa tentang mantanku, aku tak tahu apa-apa tentangmu, dan seketika kau bertanya seolah aku sudah cerita banyak hal tentangnya padamu. Hari itu kau gagal menyentuhku.
Hal lain yang tak habis pikir bagiku, bagaimana mungkin aku semenarik itu hingga kau sampai mencari tahu tentangku di Google.
Tuhan, sepenasaran itukah kau?
Meski tak bisa kupungkiri, informasi mengenaiku cukup banyak tersebar di sosial media. Kau berhasil mengumpulkan kepingan memoriku.

Kau tahu, aku sangat suka caramu menatapku. Dulu aku sangat berharap menemukan seseorang yang akan menatapku dengan cara itu, tapi hari ini aku sadar, tatapan seperti itu terlalu meluluhkan, terlalu meluluhkan, sampai aku tak sanggup.

Kau berhasil mengetukku  saat aku jatuh tersungkur, kau tidak berusaha menarikku dari lubang itu, yah, kau hanya diam. Lalu pelan-pelan ikut masuk ke lubang, duduk di sana. Diam. Menemaniku. Aku bahkan tak menyadari keberadaanmu, sungguh. Itu kebodohanku. Orang-orang di sekitar sudah mulai mencoba memberitahuku, tapi aku terlalu terluka untuk berusaha menyadari hal itu. Hingga, saat luka itu mulai mengering, saat aku mulai berdiri untuk sembuh. Aku menemukanmu, masih duduk di sampingku, dan perlahan mulai menyadari, Tuhan tak pernah sejahat yang kupikirkan.
Kau tidak memaksaku berdiri. Kau menungguku hingga aku siap berdiri. Dan hingga hari itu tiba, aku menemukan diriku tersenyum, dan kau memenangkan senyuman itu.

Apa yang kau lalui untuk sekadar membuatku sadar, bukanlah hal yang mudah. Mengingat aku yang tak menyadari kau berada di sampingku, dan aku yang terlalu takut untuk mengakui keberadaanmu.
Untuknya kau tak pernah menyerah atasku.
Yah, kau tak pernah menyerah padaku.
Jangan pernah menyerah, padaku.
Kumohon, jangan.

Kau tahu, di bagian ini.
Aku bersyukur, untuk semua yang terjadi.
Untuk semua skenario yang Tuhan susun, semua skenario ini bermuara padamu. Membuatku akhirnya menemukanmu, membuat kita mematung, dan memilih untuk tetap tinggal.
Kamu,
Seketika semuanya menjadi tentang kamu, aku bersyukur lagi, Tuhan mempertemukan kita.
Terima kasih, telah hadir. Telah memilih untuk tinggal, dan semua yang telah terjadi.
Aku akhirnya, menemukanmu.

Selasa, 28 Februari 2017

Kamu Penyebabnya

Kau tak akan pernah tahu kata terlambat ada di detik ke berapa.
Sama halnya dengan dirimu, kau juga sama tidak tahunya.
Sempat aku berpikir kau malah datang di detik yang paling terlambat, detik kesekian puluh ketika aku memilih berhenti untuk membuka hati. Kau datang di saat itu.
Namun, rupanya aku yang paling salah tafsir saat itu, akulah yang paling tidak tahu kata terlambat ada di detik yang mana.
Karena di pertemuan pertemuan selanjutnya, kau meyakinkanku bahwa kehadiranmu tak terlambat.

Bagaimana mungkin kau bias begitu apik memaikan peran ini, datang dengan segala hal yang sudah kutunggu sejak dulu.
Ah, binar mata saat kau tersenyum bisa membuatku pilas.
Belum lagi saat kau melempar senyum itu padaku, Skakmat!
Bentengku roboh sempurna.

Aku mulai bertanya bagaimana kau mampu merajut kembali sesuatu yang sudah tersobek-sobek menjadi puluhan bagian, kau menyulapnya kembali utuh, tanpa luka. Tanpa bekas. Tanpa tanda Tanya. Kau melakukannya begitu saja, tanpa kuminta.
Semua kegilaan ini bermula saat aku mulai berpikir untuk kembali berdiri, hampir seluruh bagian dalam diriku memintaku untuk kembali meringkuk di sudut itu, menunggu seseorang menarikku dari sana. Namun, jika tempat ini bak sebuah ruangan yang dipenuhi orang, maka aku sama sekali tidak akan mencolok. Sama sekali tidak akan terlihat, apalagi untuk ditarik oleh seseorang, untuk membantuku berdiri.
Aku mulai berpikir untuk kembali berdiri.
Satu tarikan usaha. Berhasil.
Hanya saja aku perlu dua detik pascanya untuk kembali terjatuh, lututku terlalu lemah. Aku membutuhkan sesuatu untuk menopangku.
Sungguh, aku butuh kekuatan baru. Aku benar-benar kehilangannya.
Lagi, aku salah.
Meski aku meringkuk di sudut ruangan, yang memang benar sulit sekali terlihat diantara orang-orang yang menari ditambah lampu ruangan yang remang-remang. Aku sempurna sulit ditemukan.
"Sulit, bukan berarti tak mungkin, bukan?"
Dan hal itu yang kudapati saat kau berdiri tepat di hadapanku, dengan senyum berbinar itu, dengan alis yang mengernyit. Aku tahu sekali raut itu.
Kau tetap berdiri di sana, hanya terdiam.
Membaca keadaan, menarikku atau membiarkanku meringkuk di sana.
Mempertimbangkan apakah kau mampu menyuakankanku.

Kejahatan tertinggi dalam mencintai adalah tidak menyampaikann rasa cinta itu sendiri.
Yah, itulah yang kau lakukan.
Hanya saja, aku mulai luput satu hal, benar kau tak mengatakkannya, tapi sebenarnya kau menunjukkan rasa itu meski abu-abu sekali.

Semakin lama kau berdiri, entah menunggu apa.
Semakin besar pula keyakinanmu untuk menarikku.
Dan benar.
Kau menarikku.
Kupikir kau terlambat.
Aku salah, kau tak pernah terlambat.
Kau datang di waktu yang sangat tepat, saat aku membutuhkan kekuatan baru. Penopang yang baru dan perlindungan yang baru.
Yah, kau penyebabnya.

Penyebab sebuah cerita lama tertutup rapat dan sebuah cerita baru dimulai.
Karena Tuhan tak sekejam pradugaku.

Senin, 16 Januari 2017

Apa yang hadir setelah hujan?

Beberapa hari ini hujan menyita perhatianku, musim penghujan tahun ini berbeda. Dia lebih menarik perhatianku dari pada musim-musim sebelumnya. Dia membuatku lebih sering menari di bawahnya. Menengadah membiarkan rintiknya menyapu wajah.

Kenapa hujan datang rombongan? karena jika sendirian, namanya airmata. Aku tertawa, kau juga ada di sana. Bingung memperhatikan kami yang sibuk menggilai hujan. Pertanyaan itu menghantuiku beberapa hari, "Kenapa hujan datang rombongan?"

Dan, hari ini.
Pertanyaanku berubah,
Apa yang hadir setelah hujan?

"Kenapa kamu takut menatap mataku?"
Ahh, aku benci pertanyaan yang kaulontarkan. Memang benar aku menghindari segala hal yang ada di balik kacamata itu, benar aku menghindari menatap matamu langsung. Benar, aku takut.
Aku takut menatap matamu.
Tak ingin mendapati diriku di dalam sana,
Dan, tak ingin kau mendapati dirimu di dalam mataku.
Aku tak ingin kita saling menemukan.
Belum, mungkin belum sekarang untuk kita saling menemukan.

Kubilang kau seperti sesuatu yang sangat jahat.
Aku pikir aku akan butuh waktu yang sangat lama untuk sembuh.
Kupikir, aku akan butuh tangis yang lebih banyak untuk berdiri.
Kupikir, aku akan butuh lebih banyak tangan untuk menarikku.
Aku salah.
Karena kedatanganmu, begitu jahat.

Ini bukan KFC deliveri yang akan datang tiga puluh menit sejak aku memesan via telepon selular. Bukan. Bahkan jika ingin diibaratkan, aku tak ingin diketuk siapa pun. Tak ingin dihadiri oleh siapa pun. Sungguh.
Tapi, Dia akan datang.
Kau bilang itu. Dan, yah, ternyata dia adalah kamu.
Kamu yang akan datang.
Kamu yang telah datang.
Kamu yang telah memilih untuk tinggal, sekarang.

Aku sembuh tanpa melakukan apapun.
Kau yang melakukannya.
Yah, kau penawar atas segala luka yang tertohok di dadaku.
Kau penawar atas segalanya.
Tetaplah tinggal, aku ingin memeluk dan menggenggam tanganmu lebih lama.
Aku ingin kita menjadi sebuah keabadian.
Aku ingin kau selalu menjagaku.
Ahhhh, aku bahkan tak percaya Tuhan menghadirkanmu.


Terima kasih telah datang.

Selasa, 03 Januari 2017

Surat Cinta Pertama Tahun Ini

Teruntuk kepada engkau, yang kusangat kucintai.

Bagaimana pergantian tahun ini kau rayakan?
Aku tahu, aku tahu kau menghabiskannya dengan siapa.
Aku tahu kalian melakukan itu untuk menamparkan kenyataan tepat di bola mataku.
Aku tahu kenapa.
Dan, aku mengerti.

Aku melawati pergantian tahun ini dengan meringkuk di ruangan biru berukuran tiga kali tiga. Aku bahkan tak tertarik melihat letupan kembang api di atas langit. Aku tahu bagaimana rasanya menjadi langit. Yang ditembaki dari segala arah, orang pasti berpikir langit akan senang dan baik-baik saja. Tapi aku tahu langit tidak sedang baik-baik saja saat hampir seluruh sisi pada dirinya ditembaki dari segala arah, dalam satu waktu.
Langit bilang rasanya sangat sesak.
Dia merasa terpojokkan.
Dan yang menyedihkan orang-orang hanya menertawainya, tertawa bahagia dia atas sesak yang ia kandung sendiri.
Siapa peduli dengan sakitnya langit?
Siapa peduli dengan perempuan yang meringkuk diam di kamarnya?
Siapa peduli, Bodoh!

Apa sebuah perpisahan itu?
Apa kau bisa menjelaskan padaku, apa arti sebuah perpisahan?
Di saat kau benar-benar masih melekat pada diriku setelah semua luka yang menganga.
Di saat aku bahkan belum membereskan sisa yang ada.
Kau masih terlalu nyata bagiku.
Orang bilang kita sudah berpisah. Tapi, aku tahu mereka berbohong.
Aku bisa merasakanmu, kau masih berdetak dalam rindu dan tidurku.
Kau masih menemani langkahku setiap harinya, bagaimana mungkin hal seperti ini mereka sebut perpisahan? Saat kau masih menemaniku!!
Kau masih ada, bahkan belum pergi sama sekali.
Apa mereka menyebut ini perpisahan karena peluk itu tidak lagi melingkar di diriku?
Lantas kenapa aku masih merasakan tanganmu yang melingkari punggungku.
Bagaimana mungkin aku sembuh, jika obatku dibawa pergi menjauh.

Hingga hari ini kujuga masih mencari penawar rindu.
Aku lebih membutuhkan penawar rindu daripada penawar luka.
Karena yang kutahu rinduku lebih besar dari semua luka yang kau tancapkan ke dadaku.
Karena aku tahu sekeras apapun kau membanting pintu itu, aku masih bisa menemukan diriku dalam dirimu.
Sama halnya aku menemukanmu dalam diriku,
Adakah penawar untuk rindu yang sekebal ini?
Untuk rindu yang sudah mengakar?
Untuk aku yang sudah mulai gila?
Adakah obat untuk semua ini?
Lantas, bagaimana jika obat untuk semua ini hanyalah kau.
Aku tak akan sembuh selamanya. Aku akan memelihara sakit ini lebih lama, aku tak percaya ini terjadi.
Lebih tak percaya lagi pada kenyataan yang kau hantamkan di bola mataku.

Kenapa aku jatuh sedalam ini, Tuhan.
Dan kenapa kau tidak menarikku dari lubang yang sudah kugali menembus dasar bumi tanpa sadar.

Labirin terdalam yang kau selami?
Bagaimana kau masih bisa memanggilku dengan panggilan itu saat kini kau tengah menyelami labirin yang lain?
Dan bergerak lebih dalam setiap harinya?
Bagaimana mungkin kau masih sanggup mengatakan itu?
Di saat kau telah bersikap setega ini?
Persetan dengan kata tak tahu diri!
Aku tak peduli.
yang kutahu aku masih menyebut ini sebagai surat cinta.
yang kutahu aku masih menangisimu.
yang kutahu aku merindukanmu.

Teruntuk pada engkau, yang sangat kucintai.
Terima kasih atas semua sakit yang kau biarkan menancap di dadaku.
Bagaimana kabarmu hari ini?
Aku rindu, aku sangat ingin mendengar suaramu.
Aku rindu pada semua cerita dan suaramu.
Sudah sangat lama aku tak mendengar suaramu.

Makassar,
 
 
 
 
 
Dari perempuan yang menggali makamnya sendiri

Sabtu, 31 Desember 2016

Apapun yang Terjadi Jangan Temui Aku

Semuanya berjalan baik, aku masih tersimpuh di sini mencoba tersenyum dengan semua kenyataan yang mengoyakku. Aku bukanlah diriku yang kemarin, bukan lagi diriku yang mampu membusungkan dada lantas bersikap semuanya dalam kendaliku.
Tidak. Jam berputar lebih lama dari biasanya, aku terpatut lebih sering dari yang seharusnya.
Tak ada perubahan, kondisiku belum membaik. Aku masih saja ada di sini. Menangisi kesedihan yang sama.

Aku tak tahu bagaimana cara hati bekerja, aku tak bisa menghentikan ini.
Bahkan aku tak tahu kenapa belakangan ini persediaan air mataku begitu banyak. Seolah-olah tersupply terus menerus, tak mengering.
Aku berharap ada sebuah buku panduan mengenai hati.
Agar aku tahu bagaimana caranya menghentikan kesedihan yang tidak berkesudahan ini, dan agar aku tahu bagaimana membolak balikkan keadaan ini.

Aku berusaha atas seluruh kadar yang kupunya. Aku telah mencintaimu menurut batas kewajaranku, hingga aku lupa bahwa batas kewajaran itu ternyata ada pada batas ambang maksimal.
Matahari masih terbit pagi ini, seolah menyapaku, seolah ingin memberitahuku bahwa hari ini cerah, keluarlah dari semua kesedihan yang kau pelihara.
Tidak, aku tidak bisa. Kakiku terkerangkeng di sini.
Matahari selalu baik.
Tapi aku selalu berharap matahari tak terbit lagi, setidaknya aku bisa berusaha tidak bersedih di kehidupan selanjutnya.

Aku lebih tak ingin kau melihatku dalam keadaan ini, sungguh.
Dan terlebih aku tak ingin melihatmu karena kau hanya akan menggores luka yang lebih dalam, kau hanya akan menghunus pedang di lukaku yang menganga.
Apapun yang terjadi jangan temui aku.
Kelak, apapun yang terjadi jangan temui aku.
Kau hanya akan selalu menjadi sakit terdalamku.
Kau hanya akan selalu menjadi luka yang menganga bagiku.

Jangan temui aku, bahkan di kehidupan selanjutnya,
Jangan.
Jangan pernah!